Burnout tidak hanya menurunkan produktivitas, tapi juga berdampak langsung pada kesehatan mental dan hubungan sosial pekerja.
Tayang: Kamis, 13 November 2025 13:38 WIB
Pixabay
Ilustrasi bekerja
TRIBUNHEALTH.COM - Burnout kini menjadi epidemi baru di dunia kerja.
Burnout tidak hanya menurunkan produktivitas, tapi juga berdampak langsung pada kesehatan mental dan hubungan sosial pekerja.
Salah satu penyebab utamanya adalah hilangnya makna dalam pekerjaan. Ketika pekerjaan tidak lagi terasa berdampak, motivasi menurun, dan akhirnya, pekerja mulai merasa hampa secara emosional.
Uang memang tetap penting, tentu saja. Namun berbagai penelitian menunjukkan kompensasi finansial bukan lagi satu-satunya alasan orang bertahan di pekerjaan.
Faktor yang lebih menentukan adalah: apakah pekerjaan itu terasa berarti? Apakah yang kita lakukan punya dampak pada orang lain? Apakah kita merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar?
Peneliti dari Frontiers in Psychology menemukan, ketika perusahaan membuka ruang bagi karyawan untuk berkontribusi pada isu sosial melalui program Corporate Social Responsibility (CSR), muncul proses yang disebut meaning-making yaitu penciptaan makna dalam pekerjaan.
CSR mendorong karyawan untuk “membentuk ulang” pekerjaan mereka agar punya dampak sosial, merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar, dan membayangkan potensi positif dari tindakan mereka (Janssen et al., 2022).
Baca juga: 7 Tanda Anak Kurang Zat Besi, Sering Sakit dan Suka Makan Benda Sembarangan
ilustrasi pekerja (money.kompas.com)
CSR: Dari Kewajiban Sosial Menjadi Sumber Kesejahteraan Mental






![[Tabligh Akbar] Dari Banten untuk Indonesia Damai - Ustadz Adi Hidayat](https://i1.ytimg.com/vi/0IjyKlfB3Lo/maxresdefault.jpg)


![[LIVE] 40 Hadits Pokok Dalam Islam - Ustadz Adi Hidayat](https://i1.ytimg.com/vi/M98MxIs-cn4/maxresdefault.jpg)