1 tahun yg lalu

Kisah perjuangan Norodom Sihanouk, Bapak Kemerdekaan Kamboja (bagian 2)


Phnom Penh (ANTARA) - Pada Konferensi Bandung atau Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika (KAA) tahun 1955, dia menyatakan Kamboja akan tetap netral dan tidak akan pernah digunakan sebagai pangkalan untuk agresi asing.

Sikap ini memicu reaksi keras dari Amerika Serikat (AS). Pada Maret 1970, kelompok Lon Nol-Sirik Matak melancarkan kudeta dengan dukungan dari AS. Sihanouk dipaksa mengasingkan diri ke Beijing, yang kemudian mendirikan Front Persatuan Nasional Kamboja dan menjabat sebagai ketuanya.

"Imperialisme Amerika dan anjing-anjing peliharaannya membuat saya dan rekan-rekan saya terasing. Kami harus berjuang agar bisa kembali ke tanah air tercinta kami dengan kepala tegak," ungkapnya.

Selama Perang Kamboja yang berlangsung dari 1970-an hingga 1980-an, Sihanouk berada di pengasingannya di China untuk waktu yang lama, memimpin rakyat Kamboja dalam perjuangan mereka melawan agresi asing dan menjaga kemerdekaan serta kedaulatan nasional.

Pada akhir 1980-an dan awal 1990-an, dengan berakhirnya perang domestik dan penarikan pasukan asing, situasi di Kamboja mulai stabil. Komunitas internasional kembali berpaling kepada Sihanouk untuk menyatukan faksi-faksi di Kamboja. Dia memanfaatkan pengaruhnya untuk mendorong rekonsiliasi dan berkontribusi pada perdamaian serta persatuan nasional.

Pada 1993, Kamboja menggelar pemilihan umum (pemilu) nasional, mengadopsi sebuah konstitusi baru, dan mengembalikan Sihanouk ke takhta. Pada 6 Oktober 2004, sang raja turun takhta karena alasan kesehatan dan kemudian digantikan oleh putranya, Sihamoni.

Sihanouk wafat pada 15 Oktober 2012. Televisi Nasional Kamboja memujinya sebagai "raja paling luar biasa di Kamboja dalam 100 tahun terakhir," mengakui perannya yang sangat penting dalam mewujudkan kemerdekaan dan mendorong rekonsiliasi nasional setelah melewati perang selama beberapa dekade.

Sihanouk mengabdikan hidupnya untuk kemerdekaan politik Kamboja dan berkomitmen pada pembangunan ekonomi negara kerajaan tersebut. Untuk memperdalam peranannya di pemerintahan, dia menyerahkan takhta kepada ayahnya, Suramarit, pada Maret 1955.

Sihanouk kemudian membentuk sebuah partai politik, memenangkan pemilu, dan menjadi perdana menteri (PM) untuk memimpin pemerintahan. Kota Sihanoukville mencerminkan visinya untuk pembangunan ekonomi nasional Kamboja.

Setelah kemerdekaan Kamboja, Pelabuhan Kampot yang sudah ada tidak cukup dalam untuk perdagangan modern...

Baca Seluruh Artikel

© Rileks 2026. Semua hak dilindungi undang-undang